Arti sukses menurut Bob Sadino


Bob Sadino: Sepiring Nasi Kesuksesan
(kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses).
Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti Bob Sadino, ternyata begitu sederhana. “Kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses,” ungkap bos Kemchicks Group ini. Ia bilang, banyak orang tidak pernah memahami arti sepiring nasi. Makan dianggap sebagai kewajaran jika orang tidak punya masalah untuk mendapatkan makanan. Tapi bagi orang yang pernah lapar, pernah tidak makan, sepiring nasi mempunyai arti yang sangat besar dan sangat mendalam. “Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini,” tutur Bob, yang pernah jadi sopir taksi dan nguli di Jakarta dengan upah Rp100 per hari.
Bob, yang lulus SMA tahun 1953 itu mengkritik keras kecenderungan para orang tua yang malas mendidik sendiri anak-anaknya. Para orang tua itu melepaskan tanggungjawab mendidik anak dan seenaknya membebankan tugas itu pada sekolah. Akhirnya, sering mereka memaksakan kehendak pada anak-anak dalam hal memilih jenis pendidikan. Padahal, kata pengusaha gaek yang pernah ikut-ikutan temannya kuliah di Fakultas Hukum UI ini, semua anak bebas menentukan pilihan. Namun itulah egoisnya orang tua. Tanpa sadar mereka sedang memperkosa pikiran anak-anak.
Bagi Bob, keteladanan sangat bermakna untuk membangun mental seseorang. “Bukan dengan memicu dan memacu, karena banyak orang yang tidak mau dipicu dan dipacu,” tegas Bob. Ia mengaku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, tetapi juga memberi pilihan sebebas-bebasnya. Disiplin harus ditegakkan, tapi kemandirian juga harus ditumbuhkan. Itulah semangat Bob dalam menggerakkan para karyawan di Kemchicks Group, yang mana mereka dianggapnya sebagai anak-anak sendiri.
Teramat sayang jika orang hanya mengingat seorang Bob Sadino sebagai pengusaha nyentrik, yang kemana-mana pakai celana pendek. Makin digali, makin ketemulah sosoknya sebagai seorang Master Kehidupan. Bahasanya bernuansa sufistik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana, lugas, dan kadang provokatif namun kaya makna itu, menjadikannya bak seorang “Guru Zen” dalam hal bisnis. “Saya ini seperti sebuah gitar tua di atas meja. Apakah saya bisa mengalunkan irama yang indah atau buruk, tergantung siapa yang memetiknya,” ungkap Bob saat didesak untuk mengeluarkan seluruh ‘ilmunya’ oleh Edy Zaqeus.
Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak bakalan pernah bisa mengenal “tehnya” Bob Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut petikan wawancara antara Bob Sadino, sang “Guru Zen” bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara berlangsung sepanjang perjalanan dari rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Wawancara ini merupakan salah satu bab dari buku best seller berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien, 2004)
Modal sering menjadi hambatan bagi yang ingin berwirausaha. Pandangan Anda?
"Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit. Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang. Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi."
Soal ketidakberanian mengambil risiko, jika berdasarkan perhitungan risikonya terlalu besar. Komentar Anda?
"Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau mengitung kalau duit saya tidak punya? Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat!"
Apa cukup mengandalkan keberanian ambil risiko saja?
"Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko, kan? Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan…."
Pernah mengalami kegagalan dalam usaha?
"Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!"
Soal mental kewirausahaan masyarakat kita?
"Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja. Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap orang lain mengikuti Anda. Itu saja!"
Bukankah itu pasif?
"Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? “Kamu besok berhenti saja jadi wartawan, kamu ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!”
Konon dalam usaha perlu ‘naluri bisnis’ (instinct) atau feeling. Anda sendiri?
"Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena saya sudah melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang dikatakan orang instinct atau feeling."
Kalau soal ‘hoki’ atau keberuntungan?
"Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya, sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil."
Bagaimana dengan leadership dalam menghidupkan usaha?
" Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!"
Kalau anak-anak tidak mampu melaksanakan apa yang Anda inginkan?
" Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan anak saya dari pengetahuannya saja? Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak, kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit, luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung jawab. Saya melaksanakan tugas saya sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada. Tidak ada bedanya."
Usaha sudah besar, urusan makin banyak, sistem makin rumit. Bagaimana mempertahankan semua ini?
" Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan. Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan dewasanya anak-anak?"
Tidak selamanya orang bisa lurus terus. Kadang meyimpang, kadang melakukan kesalahan?
" Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan kesalahan, silahkan! Bebas kok. Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia sakit sendiri".
Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak?
"Dua-duanya boleh. Merdeka kok!"
Kedengarannya kok tidak ada mekanisme reward and punishment?
" Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya. Punishment juga karena kelakuan dia sendiri. Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi? Saya paling menghindari perkataan punishment".
Lebih utama pengalaman atau sesuatu yang didapat dari bangku sekolah?
" Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah Andrias (penulis buku-buku best seller: red), saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah."
Siapa guru-guru terbaik Anda?
"Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan, batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah."
Mungkin ada kekhawatiran kalau tidak sekolah nanti tidak bisa hidup?
" Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak sebaliknya, malah karena sekolah dia nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang tua, yang saya ingat adalah obrolan saya dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang tua yang percaya, bahwa dengan sekolah anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang lain. Kalau kamu menghendaki anakmu melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois. Bukankah setiap anak itu bebas memilih apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran anakmu. Itu menurut Bob Sadino!"
Ada pemikiran, pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak?
" Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah".
Apakah ide-ide semacam ini bagus untuk orang-orang di bangku sekolah?
" Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses, jawaban saya sangat sederhana dan sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses."
Mungkin orang merasa tidak aman jika meninggalkan sekolah dan tidak punya ijazah?
" Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat mereka? Kemarin saya ke IPB sedang mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu, berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya. Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik sendiri anaknya."
Waktu kecil pernah punya cita-cita?
" Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, ‘benar nggak?’ berarti kamu tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh, kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya".
Bagi Anda apa makna sukses itu?
" Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat dimakan besok? Saya menghargai itu karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang adalah itu. Makan dianggap taken for granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan. Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu tanya mereka…."
Ada saat-saat khusus untuk meditasi atau refleksi diri?
" Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak, itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha.."
Setelah seperti sekarang ini, ke depan apalagi yang Anda harapkan?
" Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan keesokan harinya saya bisa makan, dan saya puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu mengukur saya itu sekarang, kamu melihat saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik bagi saya.
Demikian arti sukses menurut bob sadino.....saya yakin anda pun akan mempunyai arti kesuksesan sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat ...salam sukses yang luaaar biasa!!!
(kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses).
Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti Bob Sadino, ternyata begitu sederhana. “Kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses,” ungkap bos Kemchicks Group ini. Ia bilang, banyak orang tidak pernah memahami arti sepiring nasi. Makan dianggap sebagai kewajaran jika orang tidak punya masalah untuk mendapatkan makanan. Tapi bagi orang yang pernah lapar, pernah tidak makan, sepiring nasi mempunyai arti yang sangat besar dan sangat mendalam. “Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini,” tutur Bob, yang pernah jadi sopir taksi dan nguli di Jakarta dengan upah Rp100 per hari.
Bob, yang lulus SMA tahun 1953 itu mengkritik keras kecenderungan para orang tua yang malas mendidik sendiri anak-anaknya. Para orang tua itu melepaskan tanggungjawab mendidik anak dan seenaknya membebankan tugas itu pada sekolah. Akhirnya, sering mereka memaksakan kehendak pada anak-anak dalam hal memilih jenis pendidikan. Padahal, kata pengusaha gaek yang pernah ikut-ikutan temannya kuliah di Fakultas Hukum UI ini, semua anak bebas menentukan pilihan. Namun itulah egoisnya orang tua. Tanpa sadar mereka sedang memperkosa pikiran anak-anak.
Bagi Bob, keteladanan sangat bermakna untuk membangun mental seseorang. “Bukan dengan memicu dan memacu, karena banyak orang yang tidak mau dipicu dan dipacu,” tegas Bob. Ia mengaku sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, tetapi juga memberi pilihan sebebas-bebasnya. Disiplin harus ditegakkan, tapi kemandirian juga harus ditumbuhkan. Itulah semangat Bob dalam menggerakkan para karyawan di Kemchicks Group, yang mana mereka dianggapnya sebagai anak-anak sendiri.
Teramat sayang jika orang hanya mengingat seorang Bob Sadino sebagai pengusaha nyentrik, yang kemana-mana pakai celana pendek. Makin digali, makin ketemulah sosoknya sebagai seorang Master Kehidupan. Bahasanya bernuansa sufistik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana, lugas, dan kadang provokatif namun kaya makna itu, menjadikannya bak seorang “Guru Zen” dalam hal bisnis. “Saya ini seperti sebuah gitar tua di atas meja. Apakah saya bisa mengalunkan irama yang indah atau buruk, tergantung siapa yang memetiknya,” ungkap Bob saat didesak untuk mengeluarkan seluruh ‘ilmunya’ oleh Edy Zaqeus.
Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak bakalan pernah bisa mengenal “tehnya” Bob Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut petikan wawancara antara Bob Sadino, sang “Guru Zen” bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara berlangsung sepanjang perjalanan dari rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Wawancara ini merupakan salah satu bab dari buku best seller berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien, 2004)
Modal sering menjadi hambatan bagi yang ingin berwirausaha. Pandangan Anda?
"Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit. Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang. Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi."
Soal ketidakberanian mengambil risiko, jika berdasarkan perhitungan risikonya terlalu besar. Komentar Anda?
"Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau mengitung kalau duit saya tidak punya? Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat!"
Apa cukup mengandalkan keberanian ambil risiko saja?
"Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko, kan? Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan…."
Pernah mengalami kegagalan dalam usaha?
"Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!"
Soal mental kewirausahaan masyarakat kita?
"Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja. Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap orang lain mengikuti Anda. Itu saja!"
Bukankah itu pasif?
"Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? “Kamu besok berhenti saja jadi wartawan, kamu ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!”
Konon dalam usaha perlu ‘naluri bisnis’ (instinct) atau feeling. Anda sendiri?
"Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena saya sudah melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang dikatakan orang instinct atau feeling."
Kalau soal ‘hoki’ atau keberuntungan?
"Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya, sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil."
Bagaimana dengan leadership dalam menghidupkan usaha?
" Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!"
Kalau anak-anak tidak mampu melaksanakan apa yang Anda inginkan?
" Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan anak saya dari pengetahuannya saja? Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak, kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit, luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung jawab. Saya melaksanakan tugas saya sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada. Tidak ada bedanya."
Usaha sudah besar, urusan makin banyak, sistem makin rumit. Bagaimana mempertahankan semua ini?
" Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan. Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan dewasanya anak-anak?"
Tidak selamanya orang bisa lurus terus. Kadang meyimpang, kadang melakukan kesalahan?
" Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan kesalahan, silahkan! Bebas kok. Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia sakit sendiri".
Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak?
"Dua-duanya boleh. Merdeka kok!"
Kedengarannya kok tidak ada mekanisme reward and punishment?
" Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya. Punishment juga karena kelakuan dia sendiri. Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi? Saya paling menghindari perkataan punishment".
Lebih utama pengalaman atau sesuatu yang didapat dari bangku sekolah?
" Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah Andrias (penulis buku-buku best seller: red), saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah."
Siapa guru-guru terbaik Anda?
"Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan, batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah."
Mungkin ada kekhawatiran kalau tidak sekolah nanti tidak bisa hidup?
" Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak sebaliknya, malah karena sekolah dia nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang tua, yang saya ingat adalah obrolan saya dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang tua yang percaya, bahwa dengan sekolah anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang lain. Kalau kamu menghendaki anakmu melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois. Bukankah setiap anak itu bebas memilih apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran anakmu. Itu menurut Bob Sadino!"
Ada pemikiran, pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak?
" Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah".
Apakah ide-ide semacam ini bagus untuk orang-orang di bangku sekolah?
" Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses, jawaban saya sangat sederhana dan sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses."
Mungkin orang merasa tidak aman jika meninggalkan sekolah dan tidak punya ijazah?
" Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat mereka? Kemarin saya ke IPB sedang mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu, berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan, yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya. Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik sendiri anaknya."
Waktu kecil pernah punya cita-cita?
" Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, ‘benar nggak?’ berarti kamu tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh, kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya".
Bagi Anda apa makna sukses itu?
" Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat dimakan besok? Saya menghargai itu karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang adalah itu. Makan dianggap taken for granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan. Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu tanya mereka…."
Ada saat-saat khusus untuk meditasi atau refleksi diri?
" Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak, itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha.."
Setelah seperti sekarang ini, ke depan apalagi yang Anda harapkan?
" Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan keesokan harinya saya bisa makan, dan saya puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu mengukur saya itu sekarang, kamu melihat saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik bagi saya.
Demikian arti sukses menurut bob sadino.....saya yakin anda pun akan mempunyai arti kesuksesan sendiri. Semoga tulisan ini bermanfaat ...salam sukses yang luaaar biasa!!!
Tulisan ini diambil dari www.pembelajar.com









48 komentar:
hmmm...emang pengalaman itu guru sejati mas, kalau kita ga pernah ngerasain yang pahit gimana kita bisa memperhatikan hal yang kecil dan umum seperti mendapatkan sepiring nasi.
Terkadang manusia justru meremehkan hal yang kecil dan tidak melihat bahwa dari hal kecil tersebut manusia akan bisa menghargai dan memikirkan hal yang lebih besar. Btw pertanyaan dan jawaban diatas lengkap banget mas, jadinya bisa memotivasi teman2 dan khususnya aku pribadi untuk lebih serius memandang kedepan dengan rencana dan aksi yang mantap hehehe.
Klo untuk orang tua itu intinya mereka hanya ingin yang terbaik bagi anaknya, memang terkadang pilihan yang orang tua arahkan pada anaknya belum tentu cocok dengan anak tersebut. Sebenarnya ini kan berdasarkan pengalaman orang tua dahulu dan melihat situasi dan kondisi dizaman sekarang. So klo menurut aku selama itu bersifat positif kita wajib menurutinya, kalau memang ada hal yang lain yang ingin kita lakukan, dan menurut oang tua belum cocok untuk masa depan, satu2nya jalan adalah dengan membuktikan kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan itu benar, kaya blogging ini hehehe, karena pada awalnya orang tua tidak begitu menyukai aktifitas aku ini mas, tetapi setelah aku memberi pengertian dan membuktikan pada mereka akhirnya orang tuaku mensupportnya, walaupun begitu aktifitas blogging ini masih aku jadikan kerja sampingan dan belum melangkah lebih jauh untuk dijadikan tumpuan hidup, setidaknya aku bisa memberi apa yang orang lain butuhkan terutama ke orang tuaku. thank
Betul, kebanyakan orang2 kita lebih bangga menjadi seorang pegawai. Punya usaha kecil2an di anggap gagal, menjadi cemoohan dan ejekkan. Salut sama Bob Sadino, seandainya saja semua orang berpikiran cemerlang seperti beliau. Terima kasih, pak Harto. Info yang sangat bermanfaat.
ketigax...
om Bob memang orangkaya sederhana...luar biasa
Kalo dia mah emang top markotop dah.
halo pak.. artikel yang motifatif sekali.. berguna buat aku yang lagi bimbang.. hahaha..
om bob selalu sederhana dan dia adalah tipe orang yang jarang dijumpai makanya banyak orang yang menjadikannya panutan dalam berusaha
bob sadino sederhana, tapi kokoh
Mendidik pak artikelnya.
Pak klo boleh nanya. link blog saya d simpan d mana yah. link bapak dah lama ada d blog sya tuh.
makasih
bapak emak kita dulu mempunyai pemikiran kalau anaknya gak bekerja di kantor (negeri/swasta), maka dibilang belum jadi orang, walaupun anaknya jadi pemulung tapi menghasilkan uang 1 milyard perbulan tetap saja belum dianggap jadi orang, tapi walaupun jadi tukang sapu di kantor maka dia dianggap sudah berhasil,
kalau sekarang sudah lain, asal dapat duit segunung entah dari mana asalnya, sudah dianggap berhasil.
kapan ya kita bisa seperti beliau kaya dan bersahaja
salam sobat
memang benar ya,,
arti kesuksesan itu,,kalau sekarang mengharapkan bisa makan kemudian besok bisa makan.
Waaah mantab nieh infonya...
pak kayanya tuh orang beda kumis sama saya wkwkwkwk,,,,nice post pak
oleh oleh dari Bogor nih bawa postingan mantapp..
informasi yang lengkap dan jelas nih pak hartoo..
thanks smoga dapat memotivasi diri saya yang sedang labil nihh...Belajar dari orang sukses yang sudah berpengalaman bisa diambil hikmahnya.
sukses pak hartoo..
sungguh luar biasa menikmati wawancara BOb sadino,,
makasih info nya,
wah... postingannya bener-bener mantep pak... makasih ya...
salut banget ma pribadi Bob Sadino ini. Memang benar katanya, pendidikan skrg ini sangat sempit pola pandangannya, yaitu cuma dari sekolah. Padahal ada tmp pendidikan yg lebih luas lagi yg harus kita pelajari, yaitu masyarakat dan alam. Pelajaran pengalaman kehidupan dari masyarakat, pelajaran keagungan Tuhan dari alam.
Makan adalah kebutuhan dasar manusia, sepertinya arti "besok bisa makan" dari Bob Sadino bukan berarti dapat goceng yang setara harga 1 piring makanan, tapi rasanya memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Betul komen Pakde Sulas, banyak orang tua yang masih berpikir kesuksesan adalah dengan bekerja di "kantor" apapun jabatannya. Pada akhirnya orang tua menyekolahkan anaknya karena agar bisa bekerja di kantor.
Ada seorang yang pernah bilang : niatkan sekolah untuk mencari ilmu karena nilainya akan jauh lebih tinggi dihadapan Tuhan daripada sekolah diniatkan hanya untuk mendapatkan pekerjaan.
asalamun alaikum Pak Harto ada tag buku nih yang harus di teruskan..diterima yah...
syukron
sukses itu tidak semudah membalik tangan, tp juga tidak semustahil mengukir diatas air!! Selalu optimis dan berusaha itu kunci sukses
Beliau memandang dunia amat mudah untuk dilunakkan,, itupun dengan usaha dan kerja keras tentunya.
Beliau memang sosok Enteprenuer sejati, mulai dari NOL kecil hingga menjadi besar karena usaha dan kerja keras yang beliau capai, namun di kehidupan yang udah amat mapan, beliau tetap menjadi sosok yang sederhana dan apa adanya.
Pokonya orang ini TOP deh...
salut sama beliau, patut dijadikan teladan.
mas harto, link saya salah tuh.. ga pake wwww.
cuman sephtian.blogspot.com
mohon diperbaiki yaa
Nyentrik nya lagi Om Bob mau pakai jas dan celana panjang hanya kalo hadir di acara nikahan sama melayat doang...
Obrolan dari beliau yang paling saya ingat adalah :
kesuksesan hanyalah titik kecil diatas puncak gunung kegagalan.. Great post!
salam sukses selalu dan tetap semangat :)
sangat memberikan motifasi...terimakasih atas postingan sobat ini...
psotingan yg inspiratif...thank's ya
Bob Sadino adalah orang yang unik, baik dari kepribadian, penampilan dan cara berpikir. Beliau salah satu orang yang berpikir 'out of the box'.
Sayangnya masyarakat kebanyakan masih mengejar gelar dan jabatan...
gw salut dah sama Uncle Bob nih! org nya sederhana tapi pemikiran nya maju banget...
Celana pendek nya itu loh heheheh
Tips suksesnya sip banget, trims telah berbagi artikel ini!
bob sadino memang mencapai sukses dengan cara kristalisasi keringat seperti tukul...
jaman sekarang anak² dah dihidupi dgn mewah, ada HP ada ini, ada itu..
bgmana masa depan bangsa kita ya?
inspiratif kang...
Aku salut ama beliau, beliau tuch prinsipnya seperti air mengalir.
Waktu dia dikerjain sama salah satu program TV Swasta, padahal waktu itu beliau sedang mo ketemu dan bahas bisnis besar. Beliau sama sekali tak sedikitpun marah, waktu ditanya. Rejeki ndak bakal lari kemana, semua dah ada takdirnya.
Hebat sekali , Enterpreneur sukses. Luar Dalam
Masih banyak orang beranggapan kalo kerja kantoran itu keren, dan bergengsi, memang iya siy, berangkat dengan baju rapi, dandy, sepatu mengkilat, punya status. Wiraswasta kadang masih dianggap sama dengan pengangguran, berangkat pake baju semaunya, kadang pulang juga semaunya. Tapi intinya bukanlah pada gengsi, tapi bagaimana kita 'berprestasi' dan menjadi panutan dalam hidup ini, betul kan Oom? :D
Bob Sadino ini menurut Shin-kun adalah salah satu bukti bahwa sebenernya sekolah bukanlah jaminan akan berhasil, sekolah itu hanya alat dan pembentuk pola pikir untuk menuju keberhasilan. Berhasil ato tidaknya seseorang, ditentukan dari usaha, kerja keras, dan doanya sendiri.
Saya Salut sama Bob Sadino. Apalagi waktu lihat di acara Kick Andy. kata-katanya singkat tapi penuh api. Yang membakar orang sekelilingnya. Apalagi jika bertemu langsung. Mungkin cuma dengan Lirikan mata dari Bob, seseorang langsung bisa berubah/
panjang banget artikelnya???? capek bacanya... hehe..
tapi memang bener sih.. bob Sadino itu juga pebisnis favritku...semoga aja bisa kayak beliau untuk kedepannya.. amiinnnn... dan satu lagi.. beliau sangat apa adanya..
makasih udah berbagai cerita motivasinya. keren
sebuah cerita kisah nyata yang penuh dengan pembelajaran. salam sukses.
Bob Sadino memang motivator kehidupan masa kini: kewirausahaan. Dan tulisan anda ini sungguh inspiratif, Pak Harto...
Wah...bisa "membuka" mata Bendol neh, karena selama ini sudah cukup puas menjadi Pegawai. Padahal, harusnya masih ada potensi yang harus diigali
Salam
Setuju buanget. Kesuksesan adalah ketika harapan kita bisa tercapai. Tinggal bagaimana kita memanage harapan2 tersebut
Om bob salut lah u/ dia..dari awal jualan telur sampe berhasil namun tetap sederhan dengan celana pendek nya..
betul betul bettul..salut u/ om bob..
meskipun anak nya lulusan universitas luar negri..namun tetap berjiawa seperti bapak nya..dengan jualan gado2..
Gara-gara baca artikel ini aku ngefans ni sama om Bob. Makasi mas udah berbagi info dan sharing-sharing,
Wow. Saya baru baca. Ini pelajaran yang sangat berharga.
thanks artikel yg sangat bermanfaat. beberapa tips bisa jd sumber inspirasi. salam blogger.
WAAAWWW...Motivator favorif saya nih dibahas...
thanx bgt nih infonya...komplit bgt...ijin copy yaa mas...buat baca2 offline...biar bisa slalu termotivasi...
BTW, Thanx bgt nih udh menghadirkan postingan ini...
Beliau adalah sosok yang saya kagumi dan menjadi panutan saya untuk menuju sukses. Saya setuju bahwa untuk menjadi orang yang sukses tidak perlu sekolah ( Sekolah tinggi-tinggi). Selama kita udah sanggup membaca dan menghitung saja itu sudah cukup. Sebaiknya generasi muda dimotivasi dengan membaca buku buku motivasi, biografi orang sukses dan cara - cara menuju kesuksesan, agar waktu dan tenaga tidak tidak terbuang buang di sekolah ( Pengalaman dan observasi saya ternyata banyak waktu terbuang disekolah). Akan lebih baik, 1 atau 2 jam dirumah tetapi membaca buku motivasi atau yang membuka pikiran baik dunia usaha, kewiraswastaan dan lain - lain. Setuju dengan Bob Sadino bahwa banyak Sarjana Yang Menganggur. Saran saya lebih baik setelah tamat SMP anak didik orang tua dan dibukakakan pikirannya untuk berbuat apapun yang halal misal jualan mainan atau apa aja yang bisa memupuk jiwa wira usahanya. Misal membuat pot bunga dirumah, buka counter, dan lain sebagainya. Kalau sudah dimulai seperti itu...saya yakin jiwa usahanya akan berkembang. dan saya yakin kalu serius, pasti akan lebih sukses dari teman temannya yang melanjutkan sekolah di SMA ataupun kuliah.
Salam sukses.
Om Bob ini memang luar biasa keren!
pengalaman kerjanya luar biasa, usaha dan perjuangannya juga luar biasa.
saya benar benar salut
wajar kalo akhirnya Allah menghadiahinya kesuksesan luar biasa, mengingat perjuangan di masa lalunya.
bisa gak ya saya sesukses Om Bob?
Poskan Komentar